Dah LAwat!!APe LAgi FOLLOW la....

Ketika cinta menyapa

Friday, September 17, 2010


Cinta didalam salah satu ruangnya adalah suatu gejolak perasaan yang terjadi antara laki-laki dan perempuan. Dimana cinta dalam hal ini adalah ungkapan perasaan jiwa, ekspresi hati, dan gejolak naluri yang menggelayuti hati seseorang terhadap kekasihnya. Ia terlahir dengan penuh semangat, keceriaan, dan kegembiraan. Karenanya cinta dan benci takkan pernah bisa bertemu. Sebab ia ditopang oleh perasaan kasih sayang, penghormatan, dan penghargaan antara satu dengan yang lainnya.

Demikian lembutnya arti cinta, sehingga terkadang sulit untuk diungkapkan dengan kata-kata. Cinta hanya dapat dipahami dengan baik, oleh insan yang tengah merasakannya dan larut didalamnya. Ungkapan saja tidak akan mampu mewakili hakikat cinta yang sebenarnya. Dan cinta yang hakiki, tidak akan pernah dimengerti kecuali dengan sebuah pengorbanan.

Cinta seperti inilah yang membutuhkan proses waktu untuk merekah dan kemudian menjiwai diri kita. Ia tidak datang dengan sekejap dan tiba-tiba. Memang benar, jika cinta bermula dari pandangan pertama, namun sesungguhnya itu hanyalah baru tingkatan pertama cinta. Ibnu Hazm pernah mengungkapkan, “Sungguh saya heran terhadap seseorang yang mengaku ia mencintai seseorang setelah melihatnya pertama kali. Bahkan hampir-hampir saya tidak mempercayainya. Cintanya itu tidak lain kecuali sekedar nafsu belaka…”.

Demikian kiranya, bahwa cinta yang sebenarnya bukanlah sekedar nafsu yang diaktualisasikan dalam hal-hal yang berhubungan dengan fisik. Namun, ia merupakan cara interaksi dan pertemuan ruh dengan ruh serta kerinduan jiwa dengan jiwa, bukan sekedar jasad dengan jasad. Sehingga target akhir dari cinta seperti ini adalah adanya pernikahan yang salah satu tujuannya untuk menentramkan jiwa. Sebagaimana yang Allah Swt jelaskan dalam salah satu firman-Nya, “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir” {Qs.Ar-Rum: 21}.

Cinta, dalam maknanya yang seperti ini juga merupakan ujian keimanan. Akankah insan beriman yang disapa oleh jenis cinta seperti ini menerimanya dengan cara yang mulia ataukah dengan cara yang hina?. Juga merupakan ujian kesabaran, akankah ia mampu bersabar menjaga kehormatan dan kesucian cinta itu dengan tidak melanggar etika Illahiyyah didalamnya.

Dalam hal ini, hubungan cinta yang berlangsung antara seorang laki-laki dan perempuan sebelum menikah adalah hubungan yang tidak syar’i. Karena, ketika kita berbicara tentang tema cinta sebelum akad nikah, kita akan berhadapan dengan satu fenomena negatif yang prinsipil, yaitu etika dan tabiat yang dibuat-buat. Baik dari pihak laki-laki maupun perempuan, tatkala mereka saling bercinta. Selain itu, kita juga berhadapan dengan satu kondisi tidak berakhirnya jalinan hubungan tersebut dengan akad nikah, sehingga mencemarkan nama baik wanita dan keluarganya, serta meninggalkan lembaran hitam dalam kehidupannya. Tentang ini, ada ungkapan menarik dari seorang penulis barat yang dikutip oleh Dr. Khalid Jamal dalam bukunya, “Sesungguhnya cinta bagi seorang lelaki hanyalah sebuah kasus dari seluruh jalan hidupnya. Sementara bagi seorang wanita, cinta adalah seluruh hidupnya”.

Selanjutnya, ketika cinta menyapa kita, maka perhatikanlah dari arah manakah ia datang? Adakah ia datang dari seorang insan yang telah tercelup oleh kemilau cahaya Allah? Ini perlu kita perhatikan, karena seorang insan yang memiliki ikatan cinta karena Allah, memiliki sebuah kekuatan jiwa yang akan melahirkan perasaan yang tajam untuk saling mengasihi, mencintai, menghormati, dan saling mempercayai kepada setiap orang yang mempunyai ikatan yang sama yaitu iman dan Islam.

Kepada kita, Rasulullah Muhammad Saw telah mengingatkan, “Barang siapa yang menikah dengan perempuan karena hartanya maka Allah akan menjadikannya fakir. Barangsiapa yang menikah dengan perempuan karena keturunannya maka Allah akan menghinakannya. Akan tetapi barang-siapa yang menikah dengan perempuan agar lebih dapat menundukkan pandangannya, membentengi nafsunya, atau untuk menyambung tali persaudaraan, maka Allah tentu memberikan berkah kepadanya dengan perempuan itu dan kepada perempuannya diberikan berkah karenyanya”. {Hr. Ibnu Hibban}.

Kita berharap dan berusaha, semoga energi cinta yang menyapa dan berlangsung dalam kehidupan kita adalah suatu jalinan kisah cinta yang Allah ridha didalamnya. Untuk ini, kita memang memerlukan kekuatan dan harus senantiasa menguatkan kesabaran. Semoga kita bisa, “Barang-siapa diberi rezeki oleh Allah seorang istri yang shalihah, sesungguhnya telah ditolong separuh agamanya. Hendaklah ia bertakwa kepada Allah pada separuh lainnya”. (Hr.Thabrani dan Hakim, sanadnya shahih}. Demikianlah, Maha suci Allah, yang telah menciptakan makhluknya berpasang-pasangan…

0 komen:

Post a Comment

Musiz Roller!!


Selena Gomez - Who Says
Mp3-Codes.com